Comment

(originally posted on Facebook)

Setelah euforia 212, pilkada Jakarta, dan perburuan Rizieq, Afi adalah topik terhangat lini masa jejaring sosial yang menyita waktu dan sel otak pemirsanya. Debat antara penanggap tulisannya memang berdampak pada produktifitas para hamba kapital, yang tak jarang harus memotong seiris kue nine to five untuk dapat mencapai kondisi deep reading.

Namun, justru itulah satu manfaat polemik pemantik kritik tandingan ini, yakni semakin banyak orang akhirnya membaca dengan seksama, bukan sekedar skimming lalu berceloteh one liner soal siapa benar dan salah.

Satu hal lagi yang menarik adalah, tak seperti euforia-euforia sebelumnya yang berlatar belakang kegiatan fisik di kehidupan nyata (utamanya di Jakarta), tulisan Afi tak memiliki keterangan tempat yang spesifik selain kepulauan tropis luas yang berjuluk tanah air.

Moralnya adalah, ini berarti siapapun bisa mengikuti jejak Afi, berjuang demi perubahan yang ingin dilihat, kapanpun dan dimanapun, tanpa nyeri otot kaki, tanpa parau pita suara, tanpa api dan karangan bunga (atau kombinasinya).

Bahwa perjuangan hari ini idealnya cukup dengan dua puluh enam huruf latin, dua puluh sembilan huruf hijaiyah opsional, serta sejumlah tanda kutip dan numeral. Karena parang hanya bisa menebas sejauh jangkauan tangan, namun paragraf bisa menyebar kemanapun tulisan bisa dibaca.

Meminjam penggambaran perang intelektual pada sebuah hip hop battle, lewat lirik grup lokal Homicide yang berbunyi «dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur,» rasanya hari ini ibu pertiwi butuh lebih banyak lagi MC yang seperti Afi. Mic drop, eh, keyboard drop.

Text

… loading Disqus comments