Comment

MV MMXIV

Seharian ini MV berada dimana-mana, seharian terdengar di perangkat suara telinga, seharian terbaca di halaman-halaman berita. MV yang pertama adalah Morgue Vanguard, yang hari ini baru saya unduh lagu perdananya bersama Sarkasz sebagai Bars Of Death. MV yang kedua adalah Massimo Vignelli, yang baru saya tahu meninggal dini hari tadi saat istri saya menanyakan siapa gerangan beliau sembari membaca berita dukanya di dinding akun Facebook saya.

Sinkronisitas, barangkali, kurang lebih. Sama seperti ketika Peter Bruhn meninggal secara tiba-tiba, justru saat putra Göran Söderström dilahirkan. Hidup memang aneh. Sebenarnya saya sudah sempat berperasaan tak enak saat Luca Vignelli mengumumkan kondisi ayahnya yang jatuh sakit, karena usia beliau yang amat sangat tua. «Seberapa tua orang ini?» Itulah pertanyaan yang muncul saat pertama kali menonton adegan beliau di film ‹Helvetica.›

Massimo Vignelli telah tiada, modernisme telah kehilangan—satu dari sekian—panutannya, namun disiplinnya akan tetap ada, dilahirkan kembali, diterapkan ulang, pada era masa kini yang bosan dengan skeumorfisme, yang beralih pada minimalisme datar, seperti karya-karya khas beliau di era yang lalu.

Baiklah, bicara tulisan saya mulai melantur, berarti saatnya kembali berpacu dengan tenggat waktu, sambil mendengarkan lagu MV, yang tetap diputar berulang-ulang. Oh ya, gambar diatas saya unduh dari halaman depan sementara situs Vignelli Associates.

Text

… loading Disqus comments