Comment

Farewell, Peter Bruhn (1969–2014).

Akhir pekan itu saya baru saja bangun tidur di kediaman mertua saya, duduk menghadap pekarangan sambil membiarkan panas matahari pagi menjalankan keajaibannya pada permukaan kulit saya. Meminjam ponsel pintar istri, saya melaksanakan ritual umum saat sedang tak berkegiatan: membaca dinding Facebook Mobile, lalu kemudian tercengang membaca status Riu Abreu tentang meninggalnya Peter Bruhn.

Saya pertama kali mengenal Fountain pada masa kuliah, lewat buku tipografi yang sama dimana saya pertama mengenal CinaHaus dan T-26. Belasan typeface bebas unduh Fountain saat itu menjadi andalan saya untuk mendapatkan tampilan yang cutting edge, maklum, masa muda adalah masa yang berapi-api. Teks colophon Fountain pulalah yang saya jadikan acuan copywriting untuk pseudonym masa freelance saya.

Saya pribadi—dan saya yakin saya bukan satu-satunya yang—merasa sangat kehilangan seorang figur panutan seperti beliau, amat sangat sayang sekali dunia harus kehilangan Peter Bruhn di usianya yang masih produktif. Belasungkawa saya yang sebesar-besarnya untuk Lotta Bruhn dan segenap anggota keluarga yang ditinggalkan, semoga masa depan Fountain tak sekedar berhenti sampai disini. Rest in peace, Peter Bruhn.

Text

… loading Disqus comments