Comment

(originally posted on Facebook)

Saya selalu menganggap pemaduan agama dengan profesi adalah hal buruk (apalagi dengan politik). Saat saya mengetahui keberadaan sebuah perkumpulan profesi (desainer grafis) yang berbasis pada suatu agama spesifik, saya langsung seperti: «baiklah, saya ini bukan untuk saya.»

Bukan karena saya menentangnya, tapi karena saya merasa saya tidak akan (atau belum) pantas untuk bergabung. Agama adalah hal yang sakral. Agama adalah hal yang suci. Agama berada di tingkat yang lebih tinggi diatas horizon bernama etika.

Meski sudah mulai mengupayakannya, terus terang hingga saat ini saya masih belum lepas dari dosa-dosa pelanggaran etika, semisal penggunaan piranti lunak ilegal, penggunaan karya Creative Commons tanpa kredit, dan penggunaan typeface pay-what-you-want (dibeli dengan $0) untuk kepentingan komersial.

Kegiatan mengambil hak orang lain (royalti lisensi) tentu sangat dilarang agama serta mencerminkan akhlak yang buruk rupa, membuat saya masih seperti orang Islam makan babi, atau orang Hindu makan sapi.

Dengan pikulan beban dosa saya yang masih cukup signifikan ini, bergabung dengan perkumpulan profesi berbasis agama (yang seyogyanya suci) adalah sebuah langkah yang hipokrit.

Kecuali jika mereka memiliki klausul penebusan dosa.

 

Comment

Variable Fonts For Responsive Design.

I am really sure that ‹glass floor› could be the next web design buzzword, and that Sitka is the new Georgia. But, man, resurrecting MM-like effect and creating a new variable font format is definitely a long, hard and winding road. Look at the current industry-standard OpenType format, even years after its introduction, still struggling hard to get its OpenType Features supported everywhere. I also still doubt that Apple, Adobe and Microsoft could get together again like the good ol' days.

Comment

Brackets Extenshuns

Belakangan ini saya mulai sering menggunakan Brackets, terutama karena lebih ringan dari code editor Adobe yang lainnya. Namun, untuk menambahkan fitur-fitur yang belum ada pada instalasi default-nya, saya memasang beberapa ekstensi pihak-ketiga berikut ini.

Beautify
Code Folding
Emmet
Markdown Preview

Jika ditilik dari namanya, masing-masing fungsinya cukup self-explanatory bukan? Saya masih dalam masa transisi jadi belum bisa berbagi cerita banyak soal Brackets, namun sementara ini bisa saya pastikan saya masih cenderung menggunakan Brackets ketimbang Atom. Persepsi naif nan sederhana saya adalah karena Brackets adalah produk buatan Adobe, barangkali nanti sedikit-banyak akan memiliki fitur yang mirip dengan ‹saudara tua›-nya, meskipun tentunya lebih terbatas.

Comment

Rupiah

Rupee India mendapatkan simbol resminya pada 15 Juli 2010. Lira Turki mendapatkan simbol resminya pada 1 Maret 2012Ruble Rusia mendapatkan simbol resminya pada 11 Desember 2013. Sedangkan Rupiah tak pernah beranjak kemanapun sejak pertama kali saya membaca utas Typophile terbitan 2 November 2005 ini. Mengetahui kenyataan memilukan ini, tentunya jiwa chauvinist saya terusik, rasa iri dan dengki tak terperi selalu muncul tiap kali lagu ‹Sakitnya Tuh Disini› terdengar di televisi.

Comment

Triangulashun

Semalam Rizal Bagus Ramadhan a.k.a. @rizalbr menanyakan bagaimana saya membuat gambar ter-triangulasi di poster ini. Well, ada sejumlah aplikasi pembantu baik luring maupun daring yang sempat saya temukan, yakni:

dmesh.thedofl.com
☞ snorpey.github.io/triangulation
jsdo.it/akm2/xoYx
☛ labs.vieron.net/delaunay-triangulations
somestuff.ru/I
conceptfarm.ca/2013/portfolio/image-triangulator
joanielemercier.com/triangulation
triangulation.jgate.de

Namun, yang saya gunakan saat mendesain poster waktu itu adalah aplikasi daring bung Javier Sánchez-Marín a.k.a. @vieron (☛).

Ngomong-ngomong, saya selalu teringat akan nama Rizal setiap kali saya menulis tag <br>. Oh boy, I hope that doesn't sound gay.

Comment

MV MMXIV

Seharian ini MV berada dimana-mana, seharian terdengar di perangkat suara telinga, seharian terbaca di halaman-halaman berita. MV yang pertama adalah Morgue Vanguard, yang hari ini baru saya unduh lagu perdananya bersama Sarkasz sebagai Bars Of Death. MV yang kedua adalah Massimo Vignelli, yang baru saya tahu meninggal dini hari tadi saat istri saya menanyakan siapa gerangan beliau sembari membaca berita dukanya di dinding akun Facebook saya.